Perkembangan industri kopi di Tanah Air sedang pesat. Data komunitas Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) mencatat Indonesia kini memuncaki dunia dengan sekitar 461.991 titik kopi (termasuk warung kopi tradisional dan kafe modern) per November 2025. Ini mengungguli negara penghasil kopi besar lainnya; sebagai perbandingan, China memiliki ~190 ribu titik kopi dan AS ~145,6 ribu. Sementara itu Asosiasi Pengusaha Kopi dan Cokelat Indonesia (APKCI) memperkirakan ada sekitar 10 ribu gerai kopi modern (merek lokal maupun asing) di Indonesia pada 2024. Laporan riset menunjukan dalam tiga tahun terakhir jumlah kedai kopi resmi hampir tiga kali lipat: dari hanya 1.083 gerai di 2016 menjadi lebih dari 2.937 gerai pada 2019. Konsumsi kopi nasional juga meningkat – menembus sekitar 288.000 ton pada 2024/25 (sekitar 1,03 kg per kapita) – walaupun rata-rata konsumsi per kapita masih rendah dibandingkan negara lain.
Brand Kopi Lokal dan Ekspansi Global
Fore Coffee (Indonesia – Singapura)
Fore Coffee lahir tahun 2018 dan tumbuh sangat cepat. Berkat model bisnis “grab-and-go” digital (kerjasama dengan ojek online dan aplikasi sendiri), hingga pertengahan 2025 Fore telah membuka sekitar 261 outlet di Indonesia dan Singapura. 9 November 2023 Fore meresmikan gerai pertamanya di Bugis Junction, Singapura, sebagai langkah penetrasi pasar Asia Tenggara. Brand yang didukung investor East Ventures ini juga berencana IPO pada 2025 untuk mengumpulkan sekitar Rp379,8 miliar modal ekspansi. Di setiap toko Fore menawarkan menu khas rasa Nusantara—misalnya Gula Aren Latte, Pandan Oat Latte, dan Butterscotch Sea Salt Latte—dengan menggunakan biji kopi organik berjenis Arabica. Pendiri dan tim manajemen menekankan Fore sebagai “pelopor kultur kopi Indonesia ke panggung global”.
Kopi Kenangan (Indonesia – Malaysia, Singapura, Filipina, India)
Kopi Kenangan, didirikan 2017 oleh Edward Tirtanata dan James Prananto, merupakan contoh unicorn baru di sektor ritel F&B. Startup ini mengisi celah antara kopi kedai mahal dan kopi instan: menawarkan es kopi susu dengan gula aren di gerai ramai (grab-and-go). Pada tahun 2021 Kopi Kenangan sukses mengumpulkan pendanaan Seri C sebesar US$96 juta dari pemodal seperti Tybourne, Sequoia, dan B Capital, yang membuat valuasinya melebihi US$1 miliar. Pertumbuhan bisnisnya luar biasa: hingga 2023 tercatat lebih dari 700 gerai di 45 kota Indonesia. Dengan dukungan modal tersebut, Kopi Kenangan pun berekspansi ke luar negeri. Tahun 2022-2023 dibuka puluhan gerai di Malaysia (sekitar 50 outlet) dan mulai masuk Singapura (7 outlet). Kehadiran di Malaysia dan Singapura menjadi batu loncatan; bahkan manajemen menargetkan membidik pasar Asia yang lebih luas. Tiap outlet baru di Asia dibuka atas nama merek “Kenangan Coffee” yang kini beroperasi di negara-negara ASEAN. Misalnya, pada Agustus 2024 manajemen mengumumkan rencana membuka 10 gerai di Filipina pada akhir 2024 dan memasuki India pada 2025. CEO Edward Tirtanata menyatakan ekspansi ini bertujuan “memperkenalkan kopi asli Indonesia ke seluruh Asia”. Dukungan investor besar juga terlihat dari masuknya Eduardo Saverin (pendiri Facebook) sebagai Dewan Direksi, dengan misi membangun brand global yang “merayakan cita rasa Indonesia dan Asia Tenggara”.
Toko Kopi Tuku (Indonesia – Korea Selatan, Eropa)
Toko Kopi Tuku didirikan tahun 2015 oleh Andanu Prasetyo dan sejak awal fokus pada konsep kopi susu gula aren khas Indonesia. Tuku menyandang predikat pelopor tren kopi susu gula aren di dalam negeri. Hingga pertengahan 2024, Tuku telah mengoperasikan sekitar 50 toko dan 10 cloud kitchen di berbagai kota besar Indonesia. Pendapatan dan laba bersih tahunan Tuku meningkat pesat (pendapatan tumbuh rata-rata 47% per tahun, laba 78% pada 2023), meski manajemen menyatakan tetap berfokus pada keberlanjutan keuangan jangka panjang.
Untuk merambah pasar global, strategi Tuku adalah memulai dengan pop-up store dan kolaborasi acara. Misalnya, Maret 2024 Tuku membuka gerai pop-up pertamanya di Gangnam, Seoul (25 Maret–10 Mei 2024). Gerai sementara ini untuk menguji pasar Korea Selatan dan mempromosikan kopi Indonesia, didukung penuh oleh KBRI Seoul dan Kemendag sebagai bagian program promosi ekspor. Selain itu, Tuku berpartisipasi dalam Amsterdam Coffee Festival untuk mengukur minat konsumen Eropa. Ambisi jangka panjangnya tercantum jelas: menargetkan 100 toko pada 2026 dan “melebarkan sayap ke pasar internasional di Asia dan Eropa”. Langkah awal ini sudah terlihat tanda-tanda. Misalnya, café-café lokal lain seperti Blue Doors (Bandung) bahkan sudah membuka cabang di Melbourne, Australia.
Data Pasar dan Industri Kopi Indonesia
Secara nasional, industri kopi Indonesia menunjukkan tren positif. Laporan Kementan (2024–2029) memproyeksikan pertumbuhan pasar kopi Indonesia sekitar 3,61% per tahun. Pemerintah mencatat Indonesia menghasilkan 807.580 ton kopi (meningkat 6,4% YoY) pada 2024, tertinggi 10 tahun terakhir, serta volume ekspor biji kopi 312,9 ribu ton (+13% YoY) senilai US$1,62 miliar (+77% YoY) pada 2024. Lampung, Sumatera Utara, Jatim, dan Aceh menjadi penyumbang ekspor terbesar. Amerika Serikat adalah pasar ekspor kopi terbesar Indonesia (US$307,4 juta pada 2024), diikuti Mesir dan Malaysia. Artinya, rasa dan komoditas kopi Indonesia semakin diminati global.
Di sisi konsumsi, rata-rata orang Indonesia masih menikmati sekitar 1,1–1,3 kg kopi per kapita per tahun (atau sekitar 4,8 juta kantong setahun). Namun segmen kopi modern tumbuh cepat. Hanya dalam lima tahun terakhir konsumsi domestik sudah naik rata-rata 2% per tahun. Gelombang ketiga kopi spesialti semakin terlihat: kini banyak kedai lokal yang menyajikan single origin Nusantara dengan berbagai teknik seduh. Fasilitas pendidikan barista dan akselerator kopi pun digalakkan. Misalnya, Kopi Kenangan mendirikan akademi barista dan program pendampingan UMKM kopi.
Dukungan pemerintah juga kuat. Kemenperin mencatat jumlah Indikasi Geografis (IG) kopi di Indonesia sudah mencapai 54 varietas, menjadi aset penting dalam membangun branding kopi Nusantara global. Wamenperin Faisol Riza bahkan menegaskan cita rasa unik dari ragam kopi daerah (Sumatra, Java, Sulawesi, Papua, dsb.) memberi peluang besar bagi pelaku usaha mengembangkan produk turunan (kopi kapsul, RTD, sirup, dsb.). Ia menyatakan meski ekspor meningkat, pangsa pasar kopi Indonesia di luar negeri masih kecil – pertanda masih banyak peluang untuk menembus pasar global. Data Neraca juga menunjukkan pangsa konsumsi kopi dalam negeri didominasi generasi muda, yang menambah potensi pertumbuhan kedai-kedai modern.
Tantangan dan Peluang Kopi Lokal di Pasar Internasional
Membawa kopi lokal ke kancah global bukan tanpa tantangan. Salah satu kendala utama adalah adaptasi cita rasa. Pengalaman Kopi Kenangan misalnya, ketika pertama masuk Malaysia dan Singapura mereka harus menyesuaikan menu. Komposisi seperti teh tarik yang biasa mereka tawarkan justru kurang laku, dan akhirnya konsumen setempat lebih memilih produk andalan mereka seperti Es Kopi Kenangan Mantan (kopi susu gula aren). Ini mencerminkan bahwa meski keunikan rasa lokal menarik, perlu studi selera pasar baru. Perbedaan preferensi budaya minum kopi juga perlu diperhitungkan – misalnya konsumen Korea cenderung menyukai kopi kedai yang lebih ringan atau lebih manis. Selain itu, tantangan logistik dan rantai pasok global tidak ringan. Menjaga kualitas biji lokal dari petani sampai outlet luar negeri memerlukan sertifikasi mutu dan kerjasama rantai pasokan (misalnya eksportir Indonesia harus bermitra dengan distributor lokal).
Persaingan di pasar kopi dunia sangat ketat. Brand-brand global mapan (Starbucks, Jollibee/Compass Coffee, Peet’s, dan lainnya) sudah menguasai banyak pasar. Untuk itu, inovasi produk dan pemasaran sangat penting. Wamenperin mengingatkan bahwa *“persaingan industri kopi global sangat ketat, sehingga jangan berhenti berinovasi, menerima teknologi baru, dan terus belajar”*. Pengalaman Kopi Kenangan yang menggaet tokoh internasional seperti Eduardo Saverin mengilustrasikan perlunya strategi branding modern. Demikian pula, Tuku yang mengikuti festival internasional dan pop-up internasional memanfaatkan jejaring, media sosial, dan reputasi online untuk memperkenalkan merek mereka. Pelaku kopi lokal harus agresif membangun awareness—baik lewat e-commerce, kerja sama franschise, maupun komunitas diaspora Indonesia di luar negeri.
Di balik tantangan itu tersembunyi peluang besar. Indonesia adalah produsen kopi terbesar keempat dunia dengan biji kopi berkualitas tinggi (Arabica dan Robusta spesialti) dari berbagai daerah. Variasi rasa yang unik (ada kopi Toraja, Gayo, Flores, Papua, dsb.) bisa menjadi diferensiasi di pasar global. Produk kopi siap saji (instant premium, kopi kapsul, RTD kopi susu gula aren) juga semakin diminati. Sebagai contoh peluang pasar, salah satu investor Kopi Kenangan menyebut bahwa industri F&B Asia Tenggara “adalah salah satu peluang konsumen terbesar”, dan percaya Kopi Kenangan mampu membawa pengalaman kopi Indonesia ke panggung dunia. Di level lokal, Kementerian memperkuat ekosistem kopi (pelatihan petani, kontes biji kopi, IG kopi spesialti) agar supply chain terjamin. Warung kopi tradisional pun bertransformasi (menambah WiFi, modernisasi desain, mengadopsi manual brew). Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya ngopi Indonesia sangat kuat, menciptakan dukungan pasar domestik yang memadai untuk mendukung ekspansi internasional.
Faktor Pendukung
- Dukungan Pemerintah & Komunitas: Kehadiran KBRI dan Kemendag aktif mempromosikan kopi Indonesia di luar negeri. Contohnya, program pop-up store kopi di Korea Selatan merupakan inisiatif resmi untuk memperluas ekspor kopi.
- Investor & Pendanaan: Dana ventura (seperti East Ventures, Sequoia, Sofina, dan B Capital) berlomba mendanai startup kopi, memberikan modal untuk ekspansi. Pendanaan besar membuat beberapa brand siap go public (mis. Fore IPO 2025) atau tumbuh cepat (Kopi Kenangan unicorn).
- Keunikan Produk: Cita rasa khas Indonesia (misal kopi susu gula aren, kopi luwak, single origin Arabica) menjadi daya tarik tersendiri. Brand seperti Kopiteori pun berhasil mempromosikan kopi Toraja sampai ke konsumen luar negeri.
- Budaya Ngopi Lokal: Basis konsumen lokal yang besar (Generasi Z dan Milenial) memberikan dukungan kuat. Kepiawaian merek dalam digital marketing dan loyalitas komunitas kopi Indonesia (termasuk diaspora) memperkuat brand saat masuk pasar global.
Kesimpulan
Perjalanan merek kopi Indonesia ke pasar internasional sudah mulai nyata. Brand-brand unggulan seperti Fore Coffee, Kopi Kenangan, dan Tuku menunjukkan bahwa model bisnis lokal mampu bereplikasi di luar negeri. Didukung oleh data pasar yang kuat – mulai dari jumlah outlet lokal yang terus bertambah, konsumsi domestik yang meningkat, hingga lonjakan ekspor kopi – usaha membawa citarasa kopi nusantara ke dunia memiliki landasan kokoh. Meski menghadapi tantangan adaptasi selera dan persaingan global, pelaku kopi Indonesia punya keunggulan tersendiri: inovasi produk lokal yang autentik serta momentum pertumbuhan industri. Dengan strategi tepat dan dukungan ekosistem (investor serta pemerintah), kopi lokal diprediksi akan terus memperluas jejaknya ke kancah internasional.
Sumber: Berbagai laporan media dan riset industri kopi (2021–2025) seperti Katadata, Antara, Nibble, CNA, serta publikasi investor dan pemerintah memberikan data pendukung analisis di atas.
https://kampuskopi.com/2024/05/13/perjalanan-kopi-dari-legenda-ethiopia-hingga-kedai-kopi-modern/




